Mengenang Sepotong Kelam di Langit Pontianak

Pemandangan di kantor sekitar daerah Siantan Hulu, Pontianak

Ketika Siang Menjadi Malam

Hari itu, Selasa, 15 September 2026, Kota Pontianak tidak tersenyum. Jam di pergelangan tangan baru menunjukkan pukul 16.11 WIB, namun matahari seolah dipaksa padam lebih awal. Langit Khatulistiwa yang seharusnya menyajikan jingga sore, berubah menjadi selimut kelam yang pekat, berat, dan mencekam.

Memang tanda hujan yang hendak turun, tapi kabut asap yang datang bertandang dengan sangat tebal juga menjadi penyebabnya.

Napas yang Tertahan di Tepi Kapuas

Jalan-jalan protokoler dari Ahmad Yani hingga Gajah Mada terlihat tak lagi sama. Lampu-lampu kendaraan dan penerangan jalan terpaksa dinyalakan lebih awal. Sorot lampunya hanya mampu menembus beberapa meter ke depan, terhalang oleh partikel debu kayu dan gambut yang terbakar di kawasan pinggiran.

Aroma sangit jelaga menusuk hingga ke tenggorokan. Udara yang dihirup terasa berat dan berdebu. Orang-orang yang terpaksa beraktivitas di luar rumah menutupi wajah mereka rapat-rapat, namun kabut itu seakan mampu menembus celah sekecil apa pun. Sungai Kapuas yang bisanya memantulkan bayangan langit sore kini lenyap ditelan pekatnya kabut.

Gelap gulita menyerupai malam hari meskipun matahari belum terbenam. Udara hari ini berada pada level berbahaya untuk kesehatan Indeks Kualitas Udara sudah menembus angka 1150 . Sayangnya angka setinggi itu, bukan sebuah pencapaian yang bisa dibanggakan tentunya.




Sebuah Catatan untuk Masa Depan

"Saya tidak akan pernah lupa bagaimana langit sore bagai dicuri , seakan hilang begitu saja. Semoga kabut ini tak hanya berlalu, tetapi juga menyadarkan kita untuk lebih menjaga bumi dan tanah gambut tempat kita berpijak."

Benar adanya filosofi masyarakat Iban yang mengatakan hutan adalah bapak, tanah adalah ibu dan air adalah darah kami. Sebuah filosofi yang memiliki makna yang sangat dalam tentang bagaimana seharusnya kita manusia memperlakukan hutan sebagai bagian dari diri kita sendiri. 

Masih adakah hari esok?

Sebuah perbincangan kecil dengan rekan sekerja, menanggapi kondisi yang sedang kami alami. Tak mudah untuk kami lewati, namun pasti bisa. This too shall pass, tak ada perjalanan yang tak berujung. Pahit untuk dikenang - memang , namun biarkan tulisan ini tetap menjadi pengingat setidaknya bagi saya.

Malam yang datang terlalu cepat ini menjadi saksi bisu betapa rapuhnya kita di hadapan alam yang terluka. Semoga besok, Pontianak dan wilayah terdampak lainnya kembali menghirup udara yang segar dan melihat biru langitnya yang sejati.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama